Minggu, 06 Desember 2015

Inilah Tipe-tipe Persahabatan, Di Mana Posisi Anda?

 

Saat itu, tidak ada yang meragukan kekuatan jumlah pasukan Thulaihah bin Khuwailid Al Asadi, yang memiliki 1000 tentara berkuda. Namun, ketika mereka berhadapan dengan pasukan Muslim, kekuatan itu seperti tidak ada gunanya, mereka dihancurkan tanpa ampun. Thulaihah Akhirnya mencari tahu penyebab kekalahan pasukannya,”Celakalah kalian! Apa yang menyebabkan kalian kalah?!”
Salah satu diantara prajuritnya pun menyatakan,”Saya akan memberi tahu anda penyebab kekalahan kami. Sesungguhnya tidak ada diantara kita seorang prajurit, kecuali ia menginginkan temannya mati terlebih dahulu darinya. Sedangkan kita berhadapan dengan satu kaum yang semuanya ingin mati sebelum teman-temannya!” (Hayat As Shahabah, 4/642)

Kisah di atas menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan persaudaraan yang mampu membentuk  prilaku itsar, hingga dalam masalah nyawa sekalipun! Disamping mempersolid kekuatan Muslim sifat ini juga menumbuhkan tingginya semangat untuk berkorban. Dengan berbekal kelebihan itu, para sahabat mampu mengalahkan  kekuatan senjata sekaligus banyaknya prajurit musuh. Makna Itsar sendiri, adalah pengutamaan terhadap hajat orang lain daripada hajat diri sendiri dikala membutuhkannya. (Tafsir Ibnu Kastir, hal. 1852)

Ketinggian sifat itsar para salaf bisa mencapai pada tahapan di atas karena, sifat ini sudah menjadi karakter dalam kehidupan mereka. Hal ini tergambar dari beberapa kasus prilaku itsar mereka dalam beberapa peristiwa.  Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan, bahwa suatu saat seorang laki-laki yang mengaku sedang mengalami kesusahan datang kepada Rasulullah, sedangkan di rumah beliau sendiri tidak ada apa-apa yang bisa diberikan. Lalu Rasulullah menawarkan kepada para sahabat, siapa yang bersedia untuk memberi pelayanan kepada laki-laki tersebut. Akhirnya ada seorang laki-laki Anshar yang bernama Abu Thalhah menerima tawaran tersebut. Padahal saat itu di rumah kaluarga Abu Thalhah tidak ada persediaan makanan kecuali untuk anak-anak mereka. Akhirnya anak-anak mereka ditidurkan tanpa makan malam sedangkan ia dan istri juga tidak makan malam itu,  lantas semua makanan disajikan untuk tamu Rasulullah tersebut. Keesokan harinya, Rasulullah bersabda,”Allah takjub terhadap si fulan dan fulanah”. Hingga turunlah firman Allah yang artinya,”…dan mereka melakukan itsar atas diri mereka, walau ada pada mereka kesusahan…” (Al Hasyr [59]: 9)
Kisah itsar para salaf juga ditemuai di saat perang Yarmuk terjadi. Kala itu, Ikrimah dan bebarapa sahabat beliau terluka parah dan dalam keadaan kritis. Namun, ketika disodorkan air, beliau malah menolak, dan menyarankan agar air itu diberikan kepada orang lain. Padahal beliau dalam keadaan luka berat dan amat membutuhkan air. Demikian pula ketika air itu disodorkan kepada sahabat lainnya, air itu ditolaknya. Hingga sampai orang ke tiga, Ikrimah sudah wafat, kemudian disusul orang ke dua, hingga orang ketiga. Semuanya tidak ada yang meminum air tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari. (lihat, Tafsir Ibnu Kastir, hal. 1852)

Ibnu Umar dalam sebuah periwayatan menyampaikan bahwa beliau mengirim kepala kambing untuk sahabat Rasulullah, namun sahabat tersebut malah menyarankan agar kepala kambing tersebut diberikan kepada sahabat lainnya. Demikian pula sahabat yang kedua, menyarankan agar kepala kambing tersebut diberikan kepada sahabat lainnya, hingga sampai kepada sahabat yang ke tujuh, ia meminta agar kepala kambing itu diberikan kepada sahabat yang pertama. (Al Ihya, 5/954)

Di kalangan salaf juga ada dua orang yang terkenal persahabatnnya, yakni Masruq dan  Khaitsamah. Kedua-duanya memang sedang terlilit hutang, namun keduanya lebih mengutamakan untuk membayar hutang sahabatnya. Masruq secara diam-diam melunasi Khaitsaman dan Khaitsamah juga melunasi hutang Masruq, tanpa sepengetahuannya. (Al Ihya, 5/954)

Demikianlah hasil tarbiyah yang dilakukan oleh Rasulullah. Masing-masing berlomba-lomba untuk mencintai saudaranya. Masing-masing berusaha untuk menjadi orang yang paling perhatian terhadap sahabatnya. Karena dengan melakukan hal itu, mereka menjadi orang yang dicintai Allah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah,”Tidak saling mencintai antara dua sahabat karena Allah, kecuali Allah paling mencintai siapa yang paling mencintai saudaranya.” (Riwayat Al Hakim, beliau menyatakan,”Isnadnya Shahih)
Sifat itsar, tidak hanya menjadikan generasi awal, sebagai generasi yang tangguh dan ditakuti oleh musuh tapi di akhirat pelakunya juga memperoleh balasan dari Allah sebagai pribadi yang dicintai Allah Ta’ala.

Varian Hubungan Persahabatan
Sifat itsar  tidak timbul tanpa sebab. Ia tumbuh disebabkan persahabatan yang didasari cinta karena Allah. Imam Al Ghazali menggambarkan persahabatn semacam ini sebagai jenis kecintaan kepada seseorang, bukan karena pribadi orang  tersebut, tapi karena ingin memperoleh keridhaan Allah.
Sedangkan, mencintai seseorang karena kecintaan kepadanya menghantarkan kepada kecintaannya kepada perkara duniawi tidak termasuk kecintaan yang didasari karena mencari keridhaan Allah. Kecintaan seperti ini mirip kecintaan seseorang terhadap uang. Seseorang cinta uang bukan karena bendanya, tapi karena dengan uang ia bisa memperoleh apa yang ia cintai.

Demikian pula kecintaan kepada teman, ada yang mencintai teman karena ingin memperoleh keuntungan dari hubungan pertemanan itu. Bahkan pada keuntungan inilah ia tambatkan kecintaannya yang hakiki. Tidak heran, ada orang yang menjalin pertemanan untuk membangun jaringan bisnis atau memperkuat posisi politis. Ada pula pihak yang menjalin pertemanan dan mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya untuk mendukung popularitas. Memang tidak ada larangan dalam hal itu, kacuali jika ada pelanggaran syar’i dalamnya, namun posisi pertemanan ini tidak akan melahirkan sifat itsar dan pengorbanan.
Biasanya, pertemanan jenis ini akan langgeng selama kepentingannya ada. Jika tujuan utama persahabatan tidak bisa diraih, maka persahabatan akan berakhir, karena dipandang tidak ada manfaat yang diperoleh. Bahkan terkadang pertemanan seperti ini berlanjut kapada hal-hal dilarang dalam syariat. Sekelompok manusia bisa suatu saat terlihat kompak dan solid, namun setelah waktu berlalu mereka berpisah, mereka saling hantam dan salin jegal. Bahkan sering pula dijumpai dalam satu team sekalipun terjadi saling sikut dan saling curiga karena masing-masing memiliki kepentingan sendiri yang ingin diraih dari perkumpulannya tersebut. Tentu, persahabatan yang seperti itu tidak akan membawa kemenangan bagi umat, dan tidak pula memperoleh keridhaan dari Allah Ta’ala. Bahkan bisa menimbulkan sifat egois yang pribadinya berpeluang untuk mudah diadu domba oleh musuh.*

Rep: Sholah Salim
Editor: Thoriq


Sumber :
Hidayatullah.(2015, 29 Oktober).inilah tipe-tipe persahabatan, dimana posisi Anda?. Diperoleh pada tanggal 06 Desember 2015 dari http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2015/10/29/82245/inilah-tipe-tipe-persahabatan-di-mana-posisi-anda.html 


Jumat, 04 Desember 2015

Renungan Part 2


            Perang tabuk memiliki ciri tersendiri, di mana kaum munafik memiliki peran aktif dan kuat sehingga berhasil mempengaruhi kaum mukminin yang ikhlas kepada agamanya karena daya tahan manusia dan daya tariknya untuk bersenang-senang kuat sekali, dank arena setan dan tubuh anak Adam mengalir menyelusuri aliran darah dan uratnya.
            Rasullulah Saw. Kembali dari perang itu menemui orang-orang yang memang tidak punya alasan kuat untuk tidak ikut berperang. Mereka wajib di hokum, generasi itu wajib di didik sesuai dengan berat tugas yang di bebeankan kepada mereka.
            Mereka adalah ummatan wasathan ‘umat pertengahan’ yang di beri tugas menjadi saksi bagi segenap umat manusia dan bahkan di beri gelar “umat terbaik, di keluarkan bagi umat manusia seluruhnya”.
Mengapa ? Karena beban berat yang hendak di pikulnya di pundak mereka adalah menyandang Kitab Allah, menuntun umat manusia, menyebarkan dan memasyarakatkan agama Islam di seluruh jagad raya ini. sudah tentu tugas ini tidak mudah, malah ia memerlukan penanganan dan perjuangan orang yang telah tergembleng.
            Anda lihat peristiwa tersebut sebagai fakta kehidupan kaum muslimin di Madinah dahulu, suatu umat yang kompak bersatu dalam menilai sesuatu, patuh dan konsekuen terhadap perintah pemimpinnya. Mereka serentak dan seragam melakukan unjuk rasa terhadap orang-orang yang absen dalam peperangan tanpa uzur, baik keluarga, handai taulan, sanak saudara, bahkan masyarakat umum, sehingga orang yang berdosa itu hidup di tengah-tengah masyarakat bagaikan orang yang terhina. Masyarakat tidak bisa menerima mereka dan mereka tidak bisa larut dalam masyarakat sehingga mereka lulus dari penggemblengan dan ujian berat dengan ikhlas, barulah Allah berkenan menerima taubat mereka. Begitu pula Rasullulah Saw. Dan segenap kaum muslimin bersedia melupakan kejadian itu dan menjadikannnya sebagai teladan untuk tidak untuk di ulangi kembali.kaum muslimin pun menganggap peristiwa tersebut sebagai karunia Allah Ta’ala dan kemurahan Rasullulah Saw., di mana pintu taubat di bentangkan lebar-lebar bagi orang yang dengan jujur mengakui kesalahannya dan kembali kepada-Nya.

(ditulis ulang dari buku Dr. ABDURRAHMAN UMAIRAH)

Selasa, 01 Desember 2015

Renungan Part 1


          Peranan “penerangan” besar sekali dalam kehidupan Negara dan bangsa karena merupakan gambar hidup dari bangsa dan Negara itu, baik keluar maupun ke dalam. Kalau Negara itu memiliki ideology, ia ingin ideologinya itu tersebar luas dan diketahui umum.
            Penerangan, terutama dalam zaman dewasa kita ini, tidak hanya dimiliki oleh Negara dan daerahnya saja, bahkan meliputi juga kehidupan pribadi, ideology, lembaga swasta, dan lain-lain. Sarana penerangan itu pun berbeda-beda dari zaman ke zaman, dari satu negri kenegri lain, bergantung pada sarana memahami hajat pribadi dan kebutuhan masyarakat umum, seperti juga peran penerangan itu sukses dan berhasil bila dikelola dengan baik.
            Pada masa permulaan, Islam tidak pernah mengabaikan penerangan dan sarananya. Rasullulah saw. Memusatkan perhatiannya dan membina para dainya dalam upaya penyebaran Islam di Jazirah Arab dan bahkan melampaui batas negaranya ke luar negri, menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh bangsa di dunia.
            Dengan mempelajari sejarah hidup Rasullulah saw., tahulah kita bahwa peran penerangan tidak pernah dikesampingkan sedikit pun dalam dakwahnyaitu dan tidak pula ragu-ragu mengirimkan perutusan, delegasi, penerangan tentang prinsip-prinsip dasr Islam, hingga akhir hayatnya.
            Rasullulah saw. Mengirimkan delegasi Syuja’bin Wahbin kepada kisra (Raja Parsi), mengirimkan delegasi Dahbah Ibnu Khalifah kepada Heraklius (Kaisar Byzantium), mengirimkan delegasi kepada al-Mundzir Ibnul-Harist bin Abi syamr al-Ghassani (penguasa Damsyiq), sebagaimana juga beliau mengirimkan delegasi Hatbib bin Abi Balta’ah kepada Mauqauqis (penguasa Iskandariah (Mesir)).

            Masing-masing perutusan pergi membawa tugas penyebaran dasar-dasar ajaran Islam. Mereka kuasai tugasnya dengan baik, mereka memiliki syarat-syarat sebagai dai, sehingga berhasil gemilang dalam menunaikan tugas dakwahnya itu, baik dalam memberikan kepuasan hati kepada para penguasa ataupun kepada para pengikutnya.
            Dalam hal ini, peran penerangan melalui syair tidak kurang pentingnya bagi kabilah-kabilah Arab, yang mengadakan kontes para penyair dan juru pidato di Suq Ukkazh, dimana keahlian mereka di pertandingkan tiap tahun. Sesudah Islam datang, penerangan melalui syair itu pun masih terus berlanjut dan memiliki pengaruh yang kuat juga.
            Muhammad bin sirin menyatakan,”Para penyair Islam ialah: Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Ruwahah, dan Ka’ab bin Malik. Adapun syair-syair Ka’ab lebihmengutamakan menakut-nakuti musuh akan akibat peperangan, Abdullah bin Ruwahah menghina kekafiran mereka, dan syair-syair Hassan lebih menitikberatkan soal nasab.
            Kini, bagaimana peran komunikasi penerangan di Negara-negara Islam (artinya, sarana penerangan yang keluar atau dipancarkan dari Negara-negara kaum muslimin, yang di biayai kas Negara mereka)?
            Kalau kita mengikuti dengan cermat sarana penerangan itu, baik mass media cetak dan elektronik, dapatlah dirasakan dengan mudah kedalaman permusuhan pengelola sarana komunikasi penerangan itu kepada Islam? Mengapa mereka memusuhi Islam ataupun ajarannya ?  Apa yang membuat  mereka marah atau tidak senang kepada Islam atau ajarannya ?
            Jawaban pertanyaan itu di teropong dari batin orang-orang yang di bebani tugas mengelola sarana komunikasi penerangan itu. Mungkin alasannya bisa di terima karena sebagian besar mereka diasuh di “meja makan” barat atau timur, jauh dari hidayah islam atau cahayanya, dan bergelimang dalam paham orang-orang kafir yang hina. Kesimpulannya, mereka mendapat pelajaran dan pendidikan dari para instruktur Yahudi, yang merencanakan akan menghancurkan dunia melalui penghancuran budi pekerti penghuninya, hingga tercapai impian lama mereka, yaitu mendirikan kerajaan dunia di atas puing-puing Negara bukan Yahudi yang akhlaknya sudah berhasil mereka hancurkan.

            Di abad XXI ini, kita dapat mengamati angkara murkanya pikiran asing, adat istiadat asing, yang menyusup masuk ke dalam batin kita, bahkan sudah menguasai metode pendidikan dan pengajaran kita, juga program pembangunan Negara kita.
            Kita tidak usah mengimpor paham dan aliran itu karena ia datang di bawa oleh penasihat ahli dan anak-anak kita yang kembali dari luar negri, kemudian ia bekerja secara otomatis melalap dengan lahap semua sisa kebudayaan dan ahlak umat kita yang masih ada, seperti api membakar alang-alang. Ia memasuki semua pintu rumah dan menggerakkan semua penghuninya sesuai apa yang diinginkan kecuali mereka yang masih dilindungi dan diselamatkan oleh Allah ta’ala.
            Seharusnya, penerangan di Negara-negara kita bertolak dari pengarahan dan dasar-dasar ajaran Islam, untuk mendidik generasi kita menjungjung tinggi budi pekerti yang luhur dan membina anak-anak kita mentauhidkan Allah, mengenali-Nya, dan bekerja demi mendapatkan keridhaan-Nya.
            Bagaimana komunikasi penerangan kita keluar tentang Islam dan keislaman ?
            Sebenarnya, perhatian keluar tidak jauh berbeda dengan sikapnya kedalam, hampir tidak ada dan bersuara, yang patut dijauhkan dan tidak boleh didekati. Begitulah sikap penerangan kita terhadap agamanya, sementara agama-agama yang dipertuan memanfaatkan media cetak dan elektroniknya untuk mempropagandakan agama Kristen dan mengajak orang untuk menganut agama itu.
            Kalau semua Negara Masehi melakukan kegiatan itu, terutama Amerika serikat, Negara yahudi tidak kurang semangat dan fanatiknya terhadap agama-Nya. Di Tel Aviv terdapat sebuah pemancar khusus yang menyiarkan siaran dalam bahasa Ibrani untuk membiasakan telinga orang mendengarkan bahasa Perjanjian Lama, mendengarkan suara mendirikan Haikal Sulaiman dan menguasai bumi yang di janjikan Yahwe (Tuhan) dari Lembah Sungai Nil hingga Sungai Euphrates, yang menjadikan Negara Palestina merupakan bagian kecil dalam Negara itu kelak.
            Kapan kita bisa menikmati pemancar Negara-negara Islam yang menyuarakan suara agama dan mengumandangkan dasar-dasar ajarannya, membela kepentingannya keseluruh penjuru bumi yang bisa di capai oleh pemancar radio, TV, dan sebagainya, yang menyuarakan suara dai dan dakwahnya ?
            Kalau usaha itu dilakukan, pasti banyak orang yang menyambut suara kebenaran itu dan masuk kedalam agama Allah beramai-ramai dan berbondong-bondong.
            Apakah kita di abad XXI ini tidak mampu melakukan dakwah seperti itu padahal kita memiliki berbagai sarana komunikasi canggih dalam bidang persuratkabaran, radio, TV, dan Laim-lain, seperti yang dilakukan Tsabit bin Qais?

            Tidak! Sebenarnya kaum muslimin masih baik dan utuh. Apabila gelap gulita sedang meliputi seluruh dunia, nantikanlah fajar akan segera menyingsing.


di ambil dari buku Dr. Abdurrahman Umairah _ Tokoh-Tokoh yang di Abadikan Al-Qur'an.

Minggu, 29 November 2015

Kedudukan Manusia Sebagai Hamba ALLAH



Manusia sebagai individual yang membutuhkan orang lain untuk melakukan segala yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup, dan dalam cangkupan luas untuk memuluskan setiap keinginannya.

Pada dasarnya manusia adalah insan yang lemah di mata Allah swt. Sehingga manusia membutuhkan pertolongan darinya. Seperti yang tertulis pada surat Al-Fatihah ayat 5. Yang berbunyi :

iyyaaka na’budu wa-iyyaaka nasta’iin

Artinya : Hanya Engkaulah yang kami sembah {1}, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. {2}
{1} Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
{2} Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Dari poin di atas sudah menjelaskan sedikit mengenai bagaimana kedudukan manusia sebagai hamba Allah. Selain kedudukan manusia sebagai hamba Allah. Manusia memiliki kedudukan yang lain. Dua kedudukan manusia :

1.      Kedudukan sebagai hamba Allah, dan

2.      Kedudukan sebagai seorang Khalifah,

Kembali ke pembahasan awal manusia. Manusia sebagai hamba allah harus pandai-pandai memposisikan diri. Secara mendasar cara memposisikan manusia sebagai hamba Allah adalah dengan cara tunduk patuh kepada Allah. Melaksanakan apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya.

Yang kedua, manusia tidak boleh lupa akan tugasnya yang keduai di dunia yaitu memposisikan dirinya sebagai seorang khalifah.

Bagaimana menjadi hamba Allah yang benar. Dengan mengenal Islamlah seseorang dapat mengetahui syarat-syarat menjadi seorang hamba yang benar. Karena di islam itu, ada suatu pelajaran yang di turunkan langsung oleh Allah swt. Kepada hambanya.
Ada empat poin yang selain agar kita menjadi hamba Allah yang tunduk dan ta’at kepadanya :

1.      Iman

2.      Islam

3.      Taq’wa

4.      Ikhsan

-Iman-  Kalimat LA ILLAHA ILLALLAH, suatu pernyataan yang memperjelas bahwa untuk menjadi hamba Allah yang benar yaitu dengan meyakini bahwa hanya Allahlah satu-satunya ILLAH yang wajib di sembah.

Qur’an Surat Al-Hajj Ayat 78 mengatakan bahwa :

78. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat (selalu), tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Iman                               Pondasi                            Landasan

Dengan penjelasan di atas, sebagai hamba Allah yang baik harus selalu Percaya, Menolak yang lain, dan mencintai Allah dari pada yang lain.

Memposisikan cinta kita kepada Allah pada posisi Utama adalah hal yang harus kita lakukan. Cinta kita kepada Allah melebihi cinta kita kepada kedua orang tua, pasangan hidup, anak, saudara, dan lain sebagainya.

-Makna Islam- 
Q.S Ibrahim Ayat 24 :

24. (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.
Dengan mengenal makna Islam yang sesungguhnya :
1.      Merasa damai
2.      Tidak berlaku sewenang-wenang.
3.      Sifat saling mengenal (Ramah)
4.      Kasih Sayang
5.      Berprasangka baik.
6.      D.S.B


Rabu, 26 Agustus 2015

Salah Kaprah Tentang Jilbab

Begitu marak tren sinetron religi yang mengangkat cerita sosok remaja muslimah ideal tapi justru menyesatkan. Mereka digambarkan sebagai sosok wanita berjilbab tapi dalam kehidupannya tetap melakukan aktivitas pacaran. Jalan ceritanya mengesankan bahwa sah saja bagi wanita yang berjilbab untuk pacaran seperti remaja zaman masa kini. Belum lagi model jilbab yang di contohkan oleh para pemain sinetron nya,terkesan asal menutup aurat saja tidak memperhatikan definisi jilbab yang sebenarnya yang terdapat dalam Al Qur’an.

Hal ini tambah di perkeruh dengan pernyataan beberapa kalangan ulama yang mengatakan bahwa jika jilbab dimaknai seperti yang ada dalam Al Qur’an   ( jilbab syar’ie) maka akan terjadi keretakan diantara sesama muslim. Pada faktanya saat ini beberapa muslimah berjilbab dengan versinya masing – masing tidak peduli kain nya menerawang, transparan dan menunjukan lekuk tubuh pada intinya mereka menganggap sudah menutup aurat sudah lebih dari cukup. Bahkan ada fenomena jilbob ( sebutan bagi wanita berjilbab tapi menunjukan lekuk tubuhnya) yang tentu melecehkan nilai jilbab dalam Islam. Inilah akibat dari tidak diterapkan nya syariat Islam secara total dalam semua ranah kehidupan , setiap orang bebas berekspresi tanpa menyandarkan pada agama.
Nyatalah sistem sekulerisme telah terterap pada masyarakat kita khususnya para remaja. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan.

Lalu bisakah kita berharap pada pada generasi remaja yang demikian ? 
Padahal mereka adalah generasi penerus bangsa. Bagaimana agar generasi muda kita tak terjebak dengan pemahaman bahwa pacaran sah saja dilakukan oleh muslimah? 
Bukan kah pacaran adalah aktifitas yang dilarang dalam Islam? 
Bukankah menutup aurat dengan syar’ie adalah kewajiban setiap muslimah? 
Lalu mengapa jilbab modis yang tak syar’ie lebih gencar di promosikan. Maka sistem seperti apa yang bisa melindungi remaja dari tontonan yang salah? 
Mungkinkah sistem demokrasi sekuler bisa mewujudkan harapan kita untuk melindungi remaja dari aktivitas yang terlarang dalam Islam ?


Sumber:
Era Muslim.(2015, 8 Januari).Salah Kaprah Tentang Jilbab.Diperoleh 27 Juni 2015,dari http://www.eramuslim.com/akhwat/wanita-bicara/salah-kaprah-tentang-jilbab.htm#

Sabtu, 08 Agustus 2015

Menantang Nyali Di Puncak Tertinggi Gunung Kidul - Yogyakarta

Diantara puluhan tempat Wisata yang berada diGunung Kidul, ternyata ada lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Dari sekian puluh Pantai, Gua, Air Terjun, dan Wisata Budaya yang ada di gunung kidul. Ada tempat Wisata yang cukup menantang nyali Sahabat semua. Wisata tersebut adalah Puncak Tertinggi di Kabupaten Gunung Kidul-Jogjakarta.
Sahabat tidak hanya disajikan panorama keindahan Alam saja, akan tetapi Sahabat akan ditangtang dengan Tanjakan-Tanjakan mematikan yang akan membuat jantung Sahabat semua terhenyut sejenak. Liak-liuk jalan yang memiliki kontur terjal serta disuguhkan dengan sisi kanan dan kiri Jurang yang cukup dalam, bahkan cukup untuk menguburkan puluhan truk-truk besar.
Suatu keunikan tersendiri untuk mencapai dataran tinggi dengan menggunakan kendaraan bermotor atau mobil khusus, ataupun menggunakan sepedah Gunung. Biasanya untuk mencapai Dataran tinggi semacam Gunung Sahabat semua harus mendaki. Tapi uniknya Sahabat semua akan diajak untuk mengendarai kendaraan seperti motor.
Motor memang menjadi primadona tersendiri bagi para wisatawan yang ingin menuju puncak tertinggi di Gunung Kidul. Ada juga wisatawan yang menggunakan Mobil atau Sepedah khusus, kendaraan sejenis ini memang jarang Sahabat lihat saat berkunjung ke Puncak tertinggi di Gunung Kidul.
Alasan mengapa banyak para wisatawan yang lebih menyukai menggunakan motor dikarenakan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, seperti saat mesin kendaraan mengalami gangguan, ban bocor, ataupun kelelahan bagi yang menggunakan kendaraan sepeda. Disaat kendaraan mengalami gangguan, memang Sahabat akan kesulitan mendapatkan benkel untuk memperbaikinya. Hanya ada beberapa bengkel yang tersedia di perjalanan menuju puncak, namun membutuhkan kerja keras untuk mencapainya. Sahabat semua harus melewati tanjakan yang curam, serta jarak tempuh yang lumayan panjang untuk mencapai bengkel satu ke bengkel yang lainnya. Itupun apabila Sahabat beruntung menemukan bengkel yang sedang menerima pelanggan. SahabatEco sarankan bagi Sahabat yang mengalami hal ini untuk tidak memaksakan diri naik kepuncak dengan kendaraan yang rusak, karena hal ini akan membuat Sahabat semua mengalami banyak kesulitan.
Selain problem dengan kendaraan yang rusak, banyak pula para wisatawan yang lupa mengisi bahan bakar kendaraan termasuk kendaran sepedah. Karena medan yang ditempuh menanjak, maka kendaraan akan membutuhkan bahan bakar yang boros pula. Begitu pula dengan kendaraan sepeda membutuhkan bahan bakar bagi yang menggunakannya, seperti contohnya perbekalan makanan diperjalanan dan air minum untuk menghindari dehidrasi.
Ada satu lagi permasalahan yang banyak terjadi di perjalanan menuju puncak, yaitu Rem motor yang rusak atau blong. Apalagi pada saat menemui medan yang menurun. Kebanyakan menurut beberapa narasumber, banyak yang tidak selamat karena permasalahan Rem ini. Dan permasalahan ini banyak terjadi pada motor matik. Dianjurkan oleh pengelola area wisata untuk tidak menggunakan motor matik saat menuju area tempat wisata, dikarenakan motor jenis ini saat terjadi Rem blong tidak bisa menggendalikan motor menggunakan tehnik Gigi.
Tapi bagi Sahabat yang sudah melewati beberapa rintangan sebelum sampai puncak akan kehilangan rasa lelah  saat melihat keindahan yang ada di atas puncak. Rasa penat yang ada akan hilang dan rasanya seperti ingin berlama-lama di tempat tersebut. Tempat tersebut dinamai Embung Sriten.
Embung Sriten atau Embung Batara Sriten terletak di gunung kidul, tepatnya di Pedukuhan Sriten Desa Pilangrejo Kecamatan Nglipar Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.
Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.
           
Embung Sriten diproyeksikan sebagai agrowisata kebun buah diantaranya manggis dan kelengkeng di perbukitan Baturagung utara yaitu gunung yang merupakan puncak tertinggi di Gunung Kidul atau puncak tugu magir dengan ketinggian sekitar 896 mdpl(meter di atas permukaan laut). Menikmati pesona embung diatas awan dan pemandangan yang luar biasa indah dengan view 360 derajat kawasan persawahan, perkampungan, perbukitan, dan beberapa wilayah di bawahnya seperti Klaten, Rawa Jombor, Waduk Gajah Mungkur,Wonogiri, Sleman, Gunung Kidul, Yogyakarta, dsb.
            Jarang sekali Sahabat menemukan penampungan air diatas dataran tinggi, apalagi dataran tinggi tersebut adalah dataran tinggi yang memiliki material kars dan kapus. Memang betul sekali material kars dan kapur tidak bisa menyimpan air. Itulah mengapa penyebab terjadinya krisis air yang dialami masyarakat Gunung Kidul salah satunya dikarenakan daerah Gunung Kidul memiliki material tanah berjenis Kars atau Kapur.
            Sahabat semua mungkin penasaran mengapa ada dataran tinggi BaturAgung-Gunung Kidul yang memiliki suatu penampungan air atau Embung. Ini dikarenakan kepedulian pemerintah setempat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sehingga dibuatlah Embung yang berada didataran paling tinggi di Gunung Kidul. Embung tersebut dilapisi semacam Plastik agar air tidak meresap kedalam tanah. Dan pengunjung pun tidak diperbolehkan mengambil air tersebut dikarenakan air tersebut hanya diproyeksikan bagi Embung itu sendiri.
            Apabila Sahabat ingin berkunjung ke Embung Sriten, Sahabat tidak memerlukan biaya yang besar. Untuk masuk kelokasi Embung anda akan dimintai oleh petugas sebesar 8000/motor dan 10.000 untuk wisatawan yang berminat untuk Camping. Biaya ini akan terus naik sesuai kebijakan pengelola. Biaya tersebut berlaku pada bulan agustus 2015.
           
Embung Sriten buka setiap hari dari jam 08.00 dan akan ditutup pada jam 18.30 oleh pengelola. Bagi Sahabat yang berkunjung untuk sekedar melihat Sunset atau sunrice maka tempat ini adalah tempat yang cocok. Tapi hati-hati bagi Sahabat yang melihat sunset jangan lupa ingat waktu, dikarenakan obyek wisata di tutup 18.30 dan suasana jalan yang gelap dan sepi. Apabila terlalu malam dan tidak memungkinkan untuk pulang, maka Sahabat disarankan memilih untuk tinggal di obyek wisata, karena telah disediakan pendopo.
            Dengan suasana yang dingin pada malam hari pengunjung disarankan memakai jaket atau pakaian yang tebal agar tidak terjadinya Hipotermia. Yaitu suatu keadaan dimana tubuh terlalu dingin dan tubuh tidak bisa menghasilkan energy panas.
            Bagi Sahabat yang menyukai Traveling, inilah tempat yang mengasyikan untuk dikunjungi pada hari luang Sahabat. Dengan panorama Gunung Merapi dan merbabu disebelah barat dan Sunset yang tenggelam di sebelah gunung merapi. Wah, sungguh menabjubkan sekali.


Sumber : 
https://tedirus.wordpress.com/
http://tedirustandibook26.blogspot.com/